Senin, 9 Februari 2015
12.12am
Eulogi
Mungin ini yang mereka bilang
ironi.
Tatapan kita menyayat rasa yang
kepalang basi,
Saat kau membacakan eulogi
Untuk memperingati mimpi-mimpi
yang meranggas mati.
12.14
Nama-nama
Pada nama-nama yang kau eja di ujung lidah,
terpatri luka, menyesakkan dada.
12.16
Satu yang Tidak Jadi Dua
Ada satu yang jadi dua, senja dan
jingga misalnya
Aku mengenal beberapa satu yang
jadi dua,
Pucuk pohon cemara yang merindu awan, akhirnya bersama juga
Aku adalah satumu,
Kamu adalah satuku.
Aku adalah satu,
yang tidak pernah jadi dua
denganmu.
12.20
Seharusnya
Seharusnya, sejak awal aku
berlari
Sebelum getaran kecil ini berubah
jadi debar yang berdentum-dentum
Menuntut memiliki hati yang belum
sempat kau beri sebelum kau pergi
12.23
Sebagian Teks Hilang
Ternyata, hanya aku terlalu buta
untuk menyadari
bahwa sejak pertama kali, memang tidak pernah ada cerita dengan kata ‘kita’.
Kata itu lindap menyisakan pilu.
Akulah sebagian teks yang hilang
dari hidupmu.
Gara-gara tadi sore kebanyakan minum kopi, alhasil tengah malem gini masih belum bisa merem dan timbulah galau. Meskipun besok ada ujian mid semester dan sampe saat ini belum paham materi, tapi kalo galau ya mau dikatakan apa lagi. Ujungnya ya begini, nulis-nulis sesuatu yang-sebut-saja-puisi *hiks mestinya belajar buat mid besok*. Anyway, berhubung pas nulis ini lagi ga enak badan, ga enak perasaan, dan masih dalam fase baru belajar nulis, kesalahan dan ke-enggak-enak-dibaca-annya tolong dipahami. *excuse aja ini mah, padahal emang belum bisa nulis*