Minggu, 08 Februari 2015

Efek Kafein




Senin, 9 Februari 2015
12.12am
Eulogi
Mungin ini yang mereka bilang ironi.
Tatapan kita menyayat rasa yang kepalang  basi,
Saat kau membacakan eulogi
Untuk memperingati mimpi-mimpi yang meranggas mati.

12.14
Nama-nama
Pada  nama-nama yang kau eja di ujung lidah,
terpatri  luka, menyesakkan dada.

12.16
Satu yang Tidak Jadi Dua
Ada satu yang jadi dua, senja dan jingga misalnya
Aku mengenal beberapa satu yang jadi dua,
Pucuk pohon cemara yang  merindu awan, akhirnya bersama juga
Aku adalah satumu,
Kamu adalah satuku.
Aku adalah satu,
yang tidak pernah jadi dua denganmu.

12.20
Seharusnya
Seharusnya, sejak awal aku berlari
Sebelum getaran kecil ini berubah jadi debar yang berdentum-dentum
Menuntut memiliki hati yang belum sempat kau beri sebelum kau pergi

12.23
Sebagian Teks Hilang
Ternyata, hanya aku terlalu buta untuk menyadari
bahwa sejak pertama kali,  memang tidak pernah ada cerita dengan kata ‘kita’.
Kata itu lindap menyisakan  pilu.
Akulah sebagian teks yang hilang dari hidupmu.

         Gara-gara tadi sore kebanyakan minum kopi, alhasil tengah malem gini masih belum bisa merem dan timbulah galau. Meskipun besok ada ujian mid semester dan sampe saat ini belum paham materi, tapi kalo galau ya mau dikatakan apa lagi. Ujungnya  ya begini, nulis-nulis sesuatu yang-sebut-saja-puisi *hiks mestinya belajar buat mid besok*. Anyway, berhubung pas nulis ini lagi ga enak badan, ga enak perasaan, dan masih dalam fase baru belajar nulis, kesalahan dan ke-enggak-enak-dibaca-annya tolong dipahami. *excuse aja ini mah, padahal emang belum bisa nulis*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar