Kamis, 22 Januari 2015

Stop Bilang Autis!


Beberapa hari lalu, saat sedang menjemput adik saya di sekolahnya, saya mendengar serombongan ibu-ibu ngobrol dengan serunya. Ketika salah seorang dari rombongan tersebut asyik sendiri dengan smartphonenya, teman-teman dalam rombongan ibu tadi sontak melontarkan kata ‘autis’ sebagai perumpamaan atas kelakuannya. Pemandangan ini sering kita lihat, bahkan mungkin kita pernah menjadi salah satu tokohnya. Entah menjadi si ‘autis’ atau menjadi orang yang menjadikan kata ‘autis’ sebagai guyonan. Seorang ibu-ibu lain yang duduk tak jauh dari saya ternyata juga ikut mendengar obrolan rombongan tadi. Berhubung bosan menunggu, iseng saya menyapanya. Setelah berbasa-basi, beliau bercerita soal anaknya yang ternyata adalah seorang penyandang autisme.

“Jo, anak tunggal saya, sudah didiagnonsa mengalami autisme sejak kecil, dulu saya masukkan ke sekolah biasa. Karena Jo nggak bisa beradaptasi sama sekolah itu, sekarang saya sekolahkan di sini (Sekolah Autis yang berada di yayasan yang sama dengan sekolah adik saya) biar ‘jadi orang’. Jo ini anak tunggal saya, harapan keluarga satu-satunya”. 

Padahal, autisme bukanlah penyakit, melaikan kelainan perkembangan syaraf otak sehingga menyebabkan otak tersebut tidak berfungsi selayaknya otak normal dan hal ini termanifestasi pada perilaku penyandangnya. Menurut ibunya, Jo terlihat normal pada tahun-tahun pertama perkembangannya, namun pada tahun ketiga, mulai terlihat gejala-gejala kelainan pada kemampuan Jo berkomunikasi dan berhubungan dengan orang lain. Bahkan, Jo mulai melakukan hal-hal yang bisa dibilang tidak wajar. Saat itulah Jo divonis mengidap autisme. Autisme juga bukan sesuatu yang bisa dijadikan perumpamaan apalagi guyonan. Kita tidak pernah tau beratnya perjuangan seorang yang mengidap autisme untuk survive di dunia ini. Kita tidak pernah mengerti perjuangan seorang ibu membesarkan anak yang mengidap autisme.

“Biaya sekolah Jo sekitar 2juta perbulan, belum termasuk terapi, beli buku, seragam, dan lain-lainnya. Mahal karena satu anak kan dipegang satu teacher. Padahal kerjaan saya dan suami cuma bikin usaha sayur masak kecil-kecilan di rumah”, ujar ibunda Jo saat ditanya berapa biaya sekolah Jo per bulannya. “Tapi demi Jo, saya bakal kasih yang terbaik. Kalo saya dan suami meninggal nggak ada yang bakal ngurus Jo, jadi buat apa saya nyimpen duit banyak-banyak buat Jo kalo dia nggak bisa manfaatin duitnya”. Sekali lagi, autisme bukan merupakan penyakit ataupun gangguan jiwa yang membuat penderitanya patut dijauhi. “Hati saya sakit saat teman-teman sekolah, bahkan guru Jo di sekolah lamanya dulu sering nge-bully Jo karena keadaannya.. Tapi sejak sekolah di sini, Jo makin jarang ngamuk”. Cerita Ibu Jo tidak hanya sampai situ. Beliau juga bercerita mengenai sulitnya membesarkan Jo. Ibu Jo harus menenangkan Jo saat sedang mengamuk, serta prepare jantung yang melecos tiap saat melihat kelakuan-kelakuan Jo yang sering mencelakakan dirinya sendiri.

Pertemuan saya dengan Ibu Jo hari itu menjadi suatu pelajaran berharga yang akan selalu saya ingat. Sekedar informasi bahwa di sekolah adik saya, anak-anak yang bersekolah di sekolah dasar berbagi gedung dengan sekolah autis dan mereka saling menghargai. Tidak ada murid dari sekolah biasa yang menjahili murid sekolah autis. Mereka sudah terbiasa menghargai sesama. Malah beberapa murid sekolah autis yang sudah cukup pandai berkomunikasi sudah berteman dengan anak-anak lainnya meskipun terkadang harus tetap di bawah pengawasan teachernya. Bahkan anak sekolah dasar di sini pun paham mengenai konsep saling-menghargai dan semua-manusia-itu-derajatnya-sama. Sungguh tidak etis jika kita dengan begitu mudah melontarkan kata autis dengan maksud berguyon dengan teman. Mencela seseorang dengan menggunakan kata autis sungguhlah tidak etis. Tidak lucu. Autism is not a joke. Stop menggunakan kata autisme sebagai guyonan. Ever think of being the parents of one?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar